Munakahat Dipandang dari Segi Fiqih

Menikah bukanlah alasan secara emosional semata, namun perlu adanya perbaikan diri dan hal-hal lainnya untuk dapat terus mempertahankan pernikahan karena pernikahan adalah wadah untuk berjuang. Berikut adalah hal-hal penting yang saya dapatkan dari hasil Seminar Pra-Nikah yang dilaksanakan pada Kamis, 29 Juli 2010 bertempat di Fakultas MIPA Universitas Indonesia.  Hasil seminar ini saya rangkum dengan sedikit penambahan agar memperjelas dan mempertegas maksud dari materi di dalamnya. Hasil seminar ini akan saya bagi menjadi 3 bagian, yaitu Munakhahat dari segi fiqih, psikologi, dan biologis.

Manfaat Menikah :
  1. Saling menyadarkan. Misalnya saling menyadarkan tentang ibadah kepada Allah SWT dengan bahasa yang baik dan lemah lembut.
  2. Sebagai sunnah Rasul. “Siapa yang tidak mengikuti sunnahku (Rasulullah), maka dia bukan umatku.”
  3.  Menjaga kemaluan. Dengan menikah, mencegah kita dari perbuatan zina. Jika, kita belum dapat   menikah, maka berpuasalah.
  4. Menciptakan keluarga sakinah, mawaddah, warahmah.
Pacaran dalam Islam dilarang karena pacaran termasuk perbuatan yang mendekati zina, seperti sms-an yang tidak jelas arah pembicaraannya. Pacaran sama seperti membuka pintu-pintu zina, maka dari itu dilarang menurut Islam. Jika sudah membuka pintu-pintu zina itu dikhawatirkan malah akan terjerumus ke dalam zina itu sendiri.


Allah memberikan jaminan bahwa jika kita shaleh, maka Insya Allah pasangan kita juga akan shaleh. Jadi, kharakteristik pasangan kita adalah cerminan diri kita sendiri. Jadi, kita perlu bercermin pada diri kita dan introspeksi diri untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Yakinlah kepada jaminan Allah karena tidak ada jaminan yang paling benar kecuali jaminan dari Allah SWT.

Cara menjauhi pintu-pintu zina :
  1.  Menjaga pandangan. Pandangan, pendengaran, dan ucapan termasuk zina jika kita tidak tahu bagaimana memanfaatkannya dengan baik dan benar sesuai dengan ajaran Islam.
  2.  Mengikuti tarbiah.
  3. Aktif dalam kebaikan-kebaikan.
  4. Mengkondisikan persepsi kita dan orang tua kita agar sejalan dengan ajaran Islam, terutama mengenai arti pernikahan itu.
  5.  Pernikahan sebagai tempat perjuangan. Perjuangan dalam hal ini termasuk berjuang mendirikan ajaran Islam, berjuang mengasuh anak-anak kita dengan baik, dan berbakti kepada suami. Jangan menganggap bahwa menikah itu menghalangi karir wanita. Kita, wanita, tentu saja masih bisa berkarir meskipun telah menikah. Tergantung karir yang seperti apa dulu. Jika menyangkut pekerjaan, maka tentu saja diperbolehkan asalkan kita dapat mengatur tugas kita sebagai istri dan ibu bagi anak-anak kita dan tugas kita sebagai wanita karir.
  6. Memilih pasangan dari pandangan ke-Islam-annya.
    Mengenai Pernikahan 
    1. Belajar dengan sungguh-sungguh terlebih dahulu. (Menurut pembicara) umur 21 atau 22 tahun adalah waktu yang tepat untuk menikah dilihat dari segi emosinal dan biologis. Namun, dianjurkan menikah setelah selesai kuliah agar kuliah kita tidak terganggu dan kita dapat mengejar cita-cita kita juga. Jangan sampai putus kuliah hanya karena menikah.
    2. Jangan terlalu lama memutuskan untuk menikah.
    3. Didik anak-anak kita dengan kasih sayang yang tulus dan ikhlas serta kenalkanlah mereka dengan Allah, Rasul, dan Al-Qur’an.
    4. Cintailah suami kita dengan bingkai cinta kita kepada Allah SWT.
    5. Hormati suami kita terlepas dari segala kekurangannya.
    6. Selalu mengembangkan ilmu meskipun telah menikah (misalnya dengan berdakwah).
    7. Berdo’a selalu kepada Allah SWT.

      

    Comments

    Popular posts from this blog

    Kisah Ranting dan Ketidaksempurnaan

    The Journeys in 2017

    Opini Tentang Depresi