I Miss My Cute Little Brother :')

Saat sedang ON ngerjain seminar di rumah, tiba-tiba aku terpaku dengan wallpaper handphone ku yang terpajang foto aku yang sedang merangkul adikku saat kecil dulu. Aku terus terpaku, tak berkedip, sampai akhirnya ada butiran air mata jatuh dari mata kanan, kemudian butiran kedua jatuh masih dari mata kanan, lalu butiran dari mata kiri ikut turun. Saat melihat kaca, mataku merah, langsung saja aku bergegas ke toilet, tak ingin ibuku mengetahui hal ini. Saat berpapasan dengan ibuku, aku beralasan ingin mandi. 

(ini bukan fotonya ya hehehe)

Saat melihat wallpaper tadi, aku jadi teringat masa kecil dulu. Kondisi hubunganku dengan adikku dulu tidak semulus saat ini. Dulu sering ribut dengan pertengkaran untuk sesuatu hal yang sepele. Saat itu hati ini terasa seperti batu, egois dan gengsi pun tinggi, sehingga tak satupun terucap kata sayang dari mulutku untuk adikku sendiri. Mungkin karena saat itu perilaku adikku juga masih sangat bocah dan aku sendiri belum dewasa (terlambat menjadi dewasa lebih tepatnya). 

Yang aku tangisi adalah aku ingin memeluk adikku yang masih lucu dulu. Andaikan saja hatiku saat itu melunak seperti sekarang, mungkin sudah setiap hari aku memeluknya dan mengajaknya jalan-jalan. Aku ingin kembali mencubit pipi gempalnya dan memeluknya di saat sedang tertidur seperti dulu. Dulu dia sungguh lucu, namun memang sangat nakal. Jadi tersadar bahwa aku telah melewatkan masa-masa yang paling berharga. Sangat menyesal. Dan bahwa aku memiliki seorang adik laki-laki itu istimewa (menurutku) karena pastinya sikap dan proses pendewasaannya berbeda dengan perempuan (aku). Saat ini, mungkin adikku tak selucu dulu (peace :p), dia sedang remaja. Bahkan saat jalan berdua pun, sering sekali orang lain memandangi kami begitu lama, mungkin mereka berpikir kami seperti sedang berpacaran. Postur tubuh adikku memang sekarang jauh lebih tinggi dariku. 

(ini juga bukan ehehehe, masa gue bule? XD)

Jadi teringat setahun yang lalu. Di suatu malam, saat darah dengan mudahnya mengalir dari mulut di setiap batuk yang terasa amat sangat begitu gatal dan tak kunjung mau berhenti sampai seakan darah itu sendiri yang memutuskan kapan ingin berhenti keluar, aku memikirkan adikku. Malam itu, dia terbangun dan melihat kondisiku. Saat diantar ke rumah sakit, aku hanya berpikir : "Ya Allah, apakah aku masih bisa bertemu dengan adikku? Apakah masih bisa? Aku ingin adikku di sini." Malam itu, saat aku merasakan tak ada harapan hidup, aku hanya memikirkan adikku dan orang tuaku, memikirkan dosaku pada mereka. Entah apa yang akan dilakukan petugas medis padaku saat itu. Sudah sangat pasrah. Alhamdulillah, aku baru bisa bertemu adikku dua hari kemudian karena khawatir kondisi pasien lain dan kondisiku yang mungkin akan menularkan penyakit serupa padanya. 

Itu masa lalu, ya masa lalu, yang mungkin sebagian besar orang lebih memilih untuk melupakan masa lalu. Menurutku, untuk masa lalu yang satu ini, tak akan pernah terlupa. Suatu pelajaran yang harus orang tua saya bayar mahal dengan uang dan pengorbanan, serta harus saya bayar mahal dengan nilai IP dan cita-cita. 

Dua minggu yang lalu saat liqo, Awhe bercerita tentang pentingnya menjalin hubungan kekerabatan. Ternyata kerabat memiliki definisi sebagai saudara sedarah, termasuk adik/kakak kita. Dari penjelasan yang Awhe utarakan, aku banyak mengangguk dan rasanya memang benar begitu adanya. Tidak sedikit teman-teman lain yang ternyata tidak memiliki hubungan yang baik dengan saudara kandungnya sendiri, malahan lebih dekat dengan teman yang sebenarnya tidak sedarah. Bukan berarti sahabat itu tidak penting, tapi ada yang sesungguhnya lebih diutamakan, yaitu kerabat, keluarga sendiri. Ini bukan berarti mematahkan tolong-menolong dengan orang lain, Bukankah di Al-Quran juga disebutkan pula bahwa pihak pertama yang disebutkan dalam hal tolong-menolong adalah keluarga? Meskipun terkadang adik juga 'bebal' untuk dinasehati ke arah jalan yang benar, tapi jangan menyerah!! 

Coba bayangkan, di saat nanti kita berada dalam kesulitan, siapa lagi yang bisa kita mintai tolong dengan bebas selain saudara kita sendiri dan yang paling dekat adalah adik/kakak kita kan? Saat ia pun sedang susah, malukah kita jika tak ada rasa sedikit iba pun tersisa di hati ini untuknya, untuk saudara kita sendiri, hanya karena kita gengsi untuk mengucapkan rasa 'aku sayang adik' atau 'aku sayang kakak'?

Yang sekarang mungkin sedang musuhan sama kakak/adik sendiri dan yang mungkin masih merasa belum dekat dengan saudara sendiri, coba kita lunakkan hati ini untuk mereka dimulai dari hal yang paling kecil seperti dalam bentuk perhatian. Mereka akan jauh lebih cepat 'meluluh' daripada yang kau bayangkan. Semoga tulisan ini bermanfaat buat yang membaca karena aku ingin semuanya tidak menyesal sepertiku dan bisa memperbaiki hubungan persaudaraan yang lebih baik lagi dengan kakak/adik nya, biar bisa ngomong seperti ini :


atau 



Semangat yaaaa, kita semua saling belajar :D

Comments

Post a Comment

what do you think?

Popular posts from this blog

The Journeys in 2017

Kisah Ranting dan Ketidaksempurnaan

Opini Tentang Depresi