Posts

Showing posts from March, 2013

Dididik Sambil Bersiap Mendidik (In Shaa Allah)

Sempat cengar-cengir sama Icha di depan rak sebuah toko buku saat memegang sebuah buku tentang mendidik anak, muehehe. Karena rasanya belum saatnya untuk membaca itu, akupun mengurungkan niat. Kemarin tiba-tiba ketemu posting dari akun DB Hijab Alila seperti ini :
#DARIMANA MEMULAI MENDIDIK ANAK YANG SHALIH...?
Untuk membuat anak menjadi shalih tidaklah dimulai sejak dia dilahirkan, tetapi dimulai sejak dia masih di dalam kandungan ibunya. Bahkan lebih dari itu, pendidikan anak yang shalih dimulai ketika sang bapak mulai mencari calon istri yang shalihah, sosok yang akan menjadi ibu bagi putra-putrinya kelak.
Guru kami Abu Hasyim Asy Syihri menukilkan kisah dari kitab Tuhfatul 'ursy karya Mahmud Mahdi Al Istanbuli bahwa seorang pria baru saja menjadi seorang bapak. Dia datang kepada seorang ulama untuk bertanya tentang pendidikan putranya yang baru lahir.
Dia bertanya,"Wahai syaikh, putraku baru saja lahir. Aku ingin engkau menjelaskan padaku tahap-tahap untuk mendidiknya agar me…

Doa

Image
Terasa ada yang sedikit hilang, ada rasa khawatir akan kondisi seseorang di sana? Saat rasa khawatir itu menyeruak, apa yang bisa menenangkan diri? Ah, doa...
Sadar diri tak mampu memberikan usaha untuk menjaga secara fisik,  lalu yang dapat kita lakukan adalah berdoa. Kita bisa meminta untuk menjaganya langsung kepada Allah yang mengurus segala hal
Dari Abu Ad-Darda’ Radiallahu anhu dia berkata: Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:  مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” (HR. Muslim no. 4912) Dalam riwayat lain dengan lafazh:  دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لِأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ “Doa seorang m…

Mensyukuri Nikmat Iman

Ada hal lain yang saya suka terlupa, yaitu nikmat iman.
Saat segala sesuatu dihadapi dengan dasar iman kepada Allah, bukankah terasa nikmat? Bukan berarti saya paling benar, bukan, bukan itu maksudnya.  Seberapa pun tingkat iman itu saat ini, patut disyukuri.  Bukan kemudian hanya bersyukur lalu puas dengan hasil sementara, tapi berjalan kembali meniti tingkat iman yang lebih tinggi lagi. 
Bersyukurlah, bahwa kita masih bisa memilah bahwa yang ini benar dan yang itu salah.  Pilihan untuk menahan amarah sekuat tenaga, karena Allah Pilihan untuk hanya mendengarkan tanpa membantah, karena Allah, meskipun kau tau dirimu lebih benar.  Mudah-mudahan Allah memberikan selalu tambahan nikmat iman kepada kita, aamiin :)
Gak boleh sedih AP.
Seburuk-buruk itu, gantilah dengan niat yang lebih baru dalam mengartikan makna seorang ibu sebagai madrasah bagi anak-anaknya kelak.
Yah, sudah sampai di tahap ini saja, selebihnya kamu yang menentukan, mudah-mudahan Allah mengabulkan niat ini, aamiin

Titik Nol

Bagi saya titik nol adalah momen 1.5 tahun yang lalu, saat aku merasa sehat dan baik-baik saja, tiba-tiba harus merasakan rasanya divonis dengan sebuah penyakit yang tidak pernah aku sangka, bahkan mungkin teman-temanku pun tak pernah menyangka. Rasanya seperti dirimu diangkat dari kelompok biasa menjadi terasing di kelompok tak biasa.

Tak ada yang paling saya inginkan di dunia ini kecuali sembuh dan sehat. Cita-cita ke Jepang, berupaya mendapat predikat cumlaude, semuanya seperti tertinggal jauh di belakang, tak terpikirkan dan tak teringinkan lagi.

Kenapa saya selalu mengingat ini? Ini adalah hal yang paling membuat diri seakan mudah bangkit saat iman sedang lemah karena gangguan tertentu. Rentetan cerita itu masih jelas di ingatan ini. Nikmati saja momen yang ada saat ini, entah dirimu sedang susah bahkan senang sekalipun, tak lupa untuk mengucap syukur, karena pasti akan ada kebaikan di dalamnya.

Bukankah bahagia saat bisa kembali menjalani rutinitas sehari-hari?
Fokus terhadap pe…

terselip ceritanya hari ini

sebenarnya udah ada clue sih dari pesan sebelumnya, jadi tidak terlalu terkejut
letih dan lusuh adalah kesan pertama, kasihan sebenarnya
ya tau sih apa yang membuat menjadi seperti itu
berulang kali pesan tertulis maupun lisan tadi "cepat lulus ya" aku terima
"doakan saja yaa," ujarku.
"wah tentu saja didoain dong" (beneran ya? haha. Alhamdulillah, yang doa-in nambah :D)
aamiin
terima kasih untuk pesanan JCo nya :D
setelah ada kepastian akhir, tiba-tiba hening sesaat tidak kunjung ada salam penutup akhirnya saya yang memutuskan untuk menutup salam duluan  saya pikir yang di seberang sana sudah akan menutup ponselnya  ternyata ada jawaban salam
bingung kenapa saat itu tiba-tiba malah saling hening  seperti ada yang tertahan