Titik Nol

Bagi saya titik nol adalah momen 1.5 tahun yang lalu, saat aku merasa sehat dan baik-baik saja, tiba-tiba harus merasakan rasanya divonis dengan sebuah penyakit yang tidak pernah aku sangka, bahkan mungkin teman-temanku pun tak pernah menyangka. Rasanya seperti dirimu diangkat dari kelompok biasa menjadi terasing di kelompok tak biasa.

Tak ada yang paling saya inginkan di dunia ini kecuali sembuh dan sehat. Cita-cita ke Jepang, berupaya mendapat predikat cumlaude, semuanya seperti tertinggal jauh di belakang, tak terpikirkan dan tak teringinkan lagi.

Kenapa saya selalu mengingat ini? Ini adalah hal yang paling membuat diri seakan mudah bangkit saat iman sedang lemah karena gangguan tertentu. Rentetan cerita itu masih jelas di ingatan ini. Nikmati saja momen yang ada saat ini, entah dirimu sedang susah bahkan senang sekalipun, tak lupa untuk mengucap syukur, karena pasti akan ada kebaikan di dalamnya.

Bukankah bahagia saat bisa kembali menjalani rutinitas sehari-hari?
Fokus terhadap pekerjaan sendiri dengan tubuh yang sehat.
Lalu kau bisa tersenyum, menyapa mereka yang lewat di hadapanmu.
Melihat teman-temanmu tertawa dan kau bisa bersama berbagi cerita dan canda dengan mereka.
Bisa bertengkar dengan adik lalu gak lama kemudian baikan lagi, seakan seperti tak ada masalah sebelumnya, hehehe (ngawur)
Bisa berada di depan laptop dan dengan sabar mengerjakan tugas-tugas kuliah
Bisa melihat ibu kembali sibuk di dapur untuk menyediakan sarapan pagi
Bukankah itu semua menyenangkan? :')

Terkadang aku memandang luas seisi ruangan asisten lab mektan.
Beribu rasa syukur kepada-Mu Ya Allah, aku bisa melanjutkan aktivitasku, mengerjakan skripsi geoteknikku.
Banyak keceriaan dengan teman-temanku.

Namun, sesuatu membuatku tertarik dari rasa-rasa itu akhir-akhir ini.
Lalu tersadar bahwa semuanya menjalankan kehidupannya masing-masing,
dengan sandaran dan tanggung jawabnya kepada Allah.
Tak ada yang lebih penting dibandingkan memikirkan cinta-Nya, sebelum berbagi cinta dengan yang lain.
Tentu saja aku ingin porsi cintaku pada-Nya takkan berubah meski harus berbagi dengan manusia yang lain.

Saya hanya bisa meminta dan meminta, terutama kesehatan.
Di setiap duduk di antara dua sujud, saat bibir mengucap wa'afini, sesungguhnya aku memohon dengan sangat untuk selalu diberikan kesehatan. Kesehatan yang menjadi mahkota manusia. Tanpa ia, manusia tidak ada apa-apanya.

Ahh hati~
Sungguh selalu ada cerita saat me-manajemen urusan hati :)

Comments

Popular posts from this blog

Kisah Ranting dan Ketidaksempurnaan

The Journeys in 2017

Back To My 90's Favourite Songs