Hubungan Kata dan Perasaan

Perempuan dan laki-laki dapat dibaca dari perkataannya. Aku belajar tentang ini dari banyak buku dan banyak pengamatan. Ada kalanya tanpa disadari, kata adalah jembatan kecil yang bisa kamu jajaki untuk menelusuri, ada apa diujung sana.

Baca posting tumblr Ilma tersebut bikin jleb. 
Beberapa hari yang lalu sempat terpikir juga menganai bahasa yang sebenarnya mencerminkan perasaan. Saya biasa menggunakan bahasa "aku-kamu" secara konsisten hanya dengan orang-orang tertentu saja. Terkadang saya malah segan mengatakan "kamu" untuk seseorang tertentu. Untunglah di bahasa Indonesia ada panggilan lain, hanya 3 huruf depannya saja yang saya gunakan, jika panggilan utuh malah lebih segan lagi, terkadang disebut sih, tapi sangat jarang. 

Tapi jika dia yang menggunakan panggilan itu untuk menyebut dirinya sendiri, masih terdengar aneh sampai sekarang. Lebih aneh lagi jika mendengar suara langsung, bukan tulisan. Terlalu personal. Tapi terserah, mungkin panggilan itu yang membuat seseorang merasa nyaman menyebut dirinya sendiri daripada menggunakan kata "gue" yang terlalu cuek atau "saya" yang terlalu formal. 

Sedang laki-laki, dia tidak pernah menyebut namanya sebagai kata ganti. Terasa aneh didengar. Tapi kamu bisa melihatnya dari cara dia menggunakan namanya sebagai kata ganti.
“Kamu apa kabar?” tidak lebih enak didengar dari “Dina apa kabar?”
Bukan begitu?
Perbedaan pemilihan kata ini berdampak pada kedekatan. Seberapa dekat dia kepadamu, dia akan memilih kata yang lebih personal. Sebarapa dalam dia memaknaimu.
Berbahagialah berbahasa Indonesia, dia membantu kita menyusun kepingan-kepingan rasa penasaran kita. Dia membantu kita mengetahui apa yang tersembunyi. Rasa cinta itu dapat berwujud kata-kata.
Bagimu yang berpikiran lurus, kamu tentu tidak akan menggunakan bahasa untuk menjerat orang yang kamu cintai dalam hal yang buruk. Bijak-bijaklah berbahasa. Perasaan itu tersentuh oleh kata-kata.

Haha, at the end, positive thinking selalu jadi terdepan :D
Perhaps, it's his way to honour you

Comments

  1. apeapeape
    jangan di apus ya post yang ini :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. same question: ini eby kenapa ya? :p

      Delete
  2. Eh, Ayu, wajib ditulis link postingan tumblr-nya, biar gak dituntut pelanggaran hak cipta, >.<

    Btw, Ilma agak kurang setuju dengan generalisasi di postingan itu sih, hahaa.. Soalnya dari pengalaman dan pengamatan sebagai anak daerah, justru cenderung merasa nyaman untuk menggunakan kata ganti orang pertama dengan nama sendiri, khususnya kalau ngomong sama sesama anak non-Jawa, baik perempuan maupun lelaki, hehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha, iya, memang ada beberapa yg generalisasi. Aku cuma tampilin yg bagian jleb aja haha..
      Oke2, nanti aku tambahin sumbernya :p

      Delete

Post a Comment

what do you think?

Popular posts from this blog

Kisah Ranting dan Ketidaksempurnaan

The Journeys in 2017

Opini Tentang Depresi