Kisah Ranting dan Ketidaksempurnaan

Seorang guru hendak menilai seberapa jauh muridnya memahami segala yang sudah diajarkannya. Guru itu berkata kepada sang murid, “Tolong kau masuk ke dalam hutan belantara di depan kita. Carilah dan ambillah satu ranting yang paling baik.

Murid tersebut mematuhi ucapan sang guru. Tanpa memperdulikan keselamatannya, sang murid masuk hutan, mencari ranting terbaik ke sana ke mari. Kadang, ia tertarik pada salah satu ranting. Akan tetapi, saat itu pula muncul suara di dalam hatinya, “Kau akan menyesal mengambil ranting tersebut. Siapa tahu di depan sana ada ranting yang lebih baik.”

Demikian seterusnya. Setiap si murid menemukan ranting, setiap itu pula hatinya berpaling. Akhirnya si murid datang ke tempat semula, menghadap gurunya, tanpa membawa apapun. Sang guru tentu saja mempertanyakan hal tersebut.

“Sudah kubilang bahwa kau harus mencari satu ranting. Mengapa kau tidak mendapatkannya? Ayo kembali ke hutan dan temukan!” kata sang guru setengah membentak.

Sang murid bergegas lari ke hutan. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengambil salah satu ranting yang tadi sempat dipilihnya. Dengan cepat pula, ia kembali ke hadapan gurunya dengan ranting tersebut. Kali ini, sang guru mengubah air muka. Ia tampak lebih bersahabat dan tersenyum.

“Muridku yang baik, sekarang ceritakan alasanmu memilih ranting itu,” kata sang guru.

Dengan sedikit tergagap, murid tersebut berkisah, “Guru, pada pengalaman pertama mencari ranting, saya memperoleh pelajaran bahwa saya selalu beranggapan ada ranting yang lebih baik di depan sana setiap kali mendapatkan sebuah ranting. Oleh karena itu, ketika sampai di ujung hutan, saya justru tidak mendapatkan apapun. Pada pengalaman kedua, saya sadar, jika saya terus-menerus berpikir seperti saat pengalaman pertama, saya tidak akan mendapatkan satu ranting seperti yang diperintahkan guru. Oleh karena itu, saya mengambil ranting ini. Walaupun ada ranting yang mungkin lebih baik, saya mencukupkan diri pada ranting ini saja.

Sang guru tersenyum dan berkata, “Muridku, demikianlah pilihan-pilihan dalam hidup. Pengalamanmu yang pertama, adalah pengalaman semua orang. Mereka selalu mencari yang sempurna bagi dirinya. Akan tetapi, hingga ujung waktu, mereka tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan. Pengalamanmu yang kedua, adalah pengalaman menekan keegoisan dirimu. Kau tahu ada yang lebih baik, tapi kau tetap berpegang teguh pada ranting yang kau dapatkan dengan susah payah.”

_Dari salah satu bab buku “Serahkan Semua Urusanmu kepada Allah” karya Fitra Firdaus Aden


Comments

Popular posts from this blog

The Journeys in 2017

Opini Tentang Depresi