Masa Transisi Kampus-Pasca Kampus

Menceramahi diri sendiri :|

Akhir-akhir ini hati terasa rusuh, benar-benar rusuh. Rasanya sudah terlalu jauh untuk mengkhawatirkan sesuatu yang saya sendiri tidak dapat memprediksinya. See? Semuanya Allah yang menentukan. Berencana tetap, merancang Plan A, Plan B, dst boleh-boleh saja karena ungkapan "biarlah hidup mengalir begitu saja" sungguh sesat menurut saya. Bukankah kita dilahirkan pasti ada perannya masing-masing dan kenapa memilih untuk menjadi seakan-akan tak berguna?

Kenapa pula harus khawatir? Rasanya ada nikmat yang terlupa. Nikmat saat merasakan "tak perlu takut, ada Allah, Allah pasti selalu menolong dan menunjukkan ke jalan yang benar" untuk setiap hal kecil yang membuat khawatir. Tapi dengan syarat: ikhtiar harus tetap dilakukan. 

Transisi dari kehidupan kampus menuju pasca campus sempat membuat saya sendiri cemas dan khawatir. Galau banget. Yang tadinya pengen banget dapet kerja, eh jadi gak niat kerja, shock ketika melihat kehidupan para pekerja. Mungkin tidak seburuk dan seseram yang dibayangkan karena mereka terlihat ceria-ceria saja dengan teman-teman kantornya. Benarlah ini semacam masa transisi. 

Pulang dari interview di perusahaan asing, saya tiba-tiba menangis, lagi-lagi di depan mama. Rasanya ini tangisan ketiga untuk tiga masalah berbeda yang dirasakan di masa transisi ini, haduh berat sebenarnya.. Yang terpikir saat itu adalah, kenapa hidup ini sepintas terlihat begitu sederhana? Sekolah, bekerja, menikah, thats it. Rasanyaaa aneeh. Tapi saya berusaha mengingat kembali pemahaman lama yang sempat tersembunyi. Hidup di dunia ini kan ladang amal buat kita. Apapun kondisi kita saat ini, jadikanlah berarti di mata Allah dan menarik ridha-Nya untuk kita agar kita selamat di akhirat kelak. 

Mama pun menceritakan masa transisi sebelum dan setelah menikah, memang akan terasa aneh seperti itu (dianalogikan), tapi seiring waktu berjalan, nanti juga terbiasa. Huhuhu, maacih mama :3 Benar-benar lega rasanya dengar ceritanya. 

Kemudian masalah gaji. Katakanlah, dari hasil nego disetuji 1.5 juta, padahal kita pengennya 2 juta. Tiba-tiba jadi mikir, 
"Yah coba tadi berhasil nego setidaknya 1.7 juta, 200 ribu nya kan bisa dipake biaya parkir sebulan di kantor."  
Hihi, kayaknya bakalan mikir hal yang sama kala misalkan berhasil nego menjadi 2 juta. 
Pasti mikir lagi: "Yah coba tadi berhasil nego 2 juta, biaya parkir sebulan di kantor terpenuhi dan bisa buat jajan lain."
 Yah begitu seterusnya sampe hasil nego mungkin berhasil lebih tinggi lagi dan lagi. Intinya gak akan pernah puas kalo dipkir-pikir mulu begitu. 

Lalu perihal perbedaan gaji. Yah biarlah kita berbeda, karena memang Allah melebihkan rezeki yang satu daripada yang lain, untuk menguji apakah kita bersyukur atau tidak. Yang jelas Allah Maha Adil, kita tidak pernah tahu adil nya di sebelah mana, tapi pasti ada, entah rezeki itu dikonversi dalam bentuk kesehatan atau yang lainnya. 

Mungkin sekilas terpikir pengen beli ini beli itu setelah mendapatkan gaji pertama (meskipun gajian masih jauh tapi dibayangin dulu deh hehe), pengen fasilitas ini dan itu, dan dunia rasanya begituuuu indah saat terbayang duit di tangan. Jadi lupa deh caranya bersyukur. Hmm, jadi terbayang satu hal: kala kita semua dikumpulkan di Padang Mahsyar, sungguh kita tidak dibedakan berdasarkan kesejahteraan saat di dunia yang didapat, melainkan amalan-amalan kita dan ridha Allah yang kita pegang. Sungguh harta di dunia seakan tak ada harganya! 

Tapi, bukan berarti kaya itu dosa. Kaya itu malah dianjurkan, tapi kas masuk dan kas keluarnya harus lancar, jangan diendapkan mulu tanpa dikeluarkan sedekahnya (reminder reminder... >.<)

Bahkan persoalan jodoh pun sempat membuat khawatir. Lagi-lagi ada yang terlupa. Saat kita memfokuskan tujuan hanya untuk mencari ridha Allah, rasanya perihal jodoh tak menjadi sasaran utama, hehe. Bukan berarti gak berusaha loh ya, tetap berdoa namun tidak sampai membuat khawatir. Karena menikah pun kan tujuannya mencari ridha Allah #eh. Ridha Allah itu seperti Golden Ticket buat kita (jadi inget Charlie and The Chocolate Factory :3)

Yang ada saat ini dicoba dijalani dulu dan selalu berusaha dimaknai bernilai di mata Allah bahkan sampai hal terkecil sekalipun, aamiin >.< Intinya mencari ridha Allah dan menerapkan prinsip ini di setiap kegiatan kita di dunia ini, bahkan sampai hal terkecil sekalipun, semangaaaat! Karena kita tidak pernah tahu amalan yang mana yang mengantarkan kita kepada surga Allah. Bahkan seorang pelacur di zaman Rasul pun masuk surga karena memberi minum seekor anjing yang kehausan. 

Comments

  1. Baiklah... tapi TERKADANG kita harus berani membuat keputusan besar dalam hidup. Mudah-mudah-an semua keputusan yang Mba Ayu ambil sudah tepat dan (tetep) mendapat ridho Tuhan... :D

    Anyway, salam kenal yaa. ;)

    ReplyDelete

Post a Comment

what do you think?

Popular posts from this blog

The Journeys in 2017

Kisah Ranting dan Ketidaksempurnaan

Opini Tentang Depresi