Ketika Membuka Lembaran Lama

Bagaimana rasanya jika harus membuka lagi masa lalu yang sudah lama ditinggalkan?

Selasa lalu adalah kali pertama site survey setelah 1 tahun bekerja. Ini project pertama dimana saya mendesign langsung dari hasil pengamatan sendiri di lapangan. Biasanya hanya dari data-data yang sudah disiapkan. Saat bersiap-siap mengumpulkan item untuk site survey, tiba-tiba google hangout berbunyi, di komputer.

Shock bukan kepalang. Haruskah lembaran lama yang penuh tambalan tip-x itu saya buka kembali? Setelah setahun ini, haruskah saya bertemu kembali? Memang ajakan itu tak langsung disampaikan oleh orang yang bersangkutan. Inilah yang sungguh meragukan. Jika hanya sekedar untuk mengingatkan saya kembali akan luka-luka lama, saya memilih tidak. Jika memang ada momentum perubahan di sana (entah positif dari sudut pandang apapun), dengan besar hati, saya akan hadir.

Andaikan dia sendiri yang mengajukannya, mungkin tak akan ada ragu. Ada berjuta tanya. Apakah dia menjadi segan untuk mengajak atau memang hanya ingin mengumpulkan massa saja untuk menikmati akhir pekan. Nyatanya belum ada kabar langsung. Berarti, dia masih ingat dengan momen setahun yang lalu.

Membuka lagi lembaran lama itu seperti membuka plester yang menyembunyikan luka. Perih. Semua memori itu keluar kembali, semuanya. Saat kondisi di sekitarku sekarang mulai membaik, kenapa harus merasakan luka lagi?

Dan... bersimpuh dalam doa dan curahan hati kepada Allah adalah selalu menjadi jalan terbaik. Berusaha menenangkan diri dan mendekat kepada-Nya. Akhirnya 1 keputusan bulat tercapai.

Saya teringat dengan harapan 5 bulan yang lalu bahwa jika ada satu kesempatan momen bertemu lagi dengannya, saya ingin meminta maaf karena mungkin ada kata-kata yang menyakitkan buatnya di setahun yang lalu. Tak sepenuhnya dia yang salah. Aku juga salah. Bukan berharap yang lain, tapi hanya sekedar ingin memperbaiki keadaan. Masalah kelanjutannya seperti apa, saya tidak terlalu perduli. Di setahun yang lalu: "Yaa kondisi nya memang sudah gak baik sekarang, Pe. Mau diapain lagi? Gak perlu merasa bersalah gitu. Hubungan silaturahim itu wajib diperbaiki buat keluarga kita aja kok."

Teman lain pun mengatakan hal yang sama. "Mungkin maaf itu tak akan terang-terangan diucapkan di depan banyak orang. Tapi, dengan kedatangan Ayu ke sana, bisa jadi senyum Ayu dan senyum nya di sana menjadi bukti maaf itu sendiri. Itu sebenarnya titik jawabannya. Tidak perduli ke depannya akan ada cerita lagi atau tidak."

Ajakan itu masih wacana. Masih belum pasti jadi atau tidak karena yang mengatur acara bukan saya. Sisanya sekarang saya pasrah dengan keputusan ini:
"Saya ingin menulis sebuah cerita baru. Tapi tidak mungkin saya menulis kembali di kertas yang sudah ada tip-x nya di sana sini. Apalagi ada bekas tip-x yang belum kering sudah ditimpa tinta, makin menusuk, makin terlihat jelek. Lalu ditambal lagi tip-x dan hasilnya gak bagus. Yang seperti itu ada di setiap bagian halaman itu. Dengan berbesar hati, emangat positif, pikiran jernih, saya melangkah ke halaman selanjutnya. Meskipun saya kembali bertemu dengan garis-garis yang sama, tapi saya punya kesempatan menulis dengan rapi dan hati-hati sehingga tidak akan terlalu banyak tambalan tip-x. Kalaupun ada, saya lebih berhati-hati menggunakan tip-x  itu agar hasilnya bagus. Lembaran lama tak perlu disobek karena dia mengajarkan banyak hal di sana. Dan lembaran baru adalah tempat meletakkan harapan-harapan baru :)"

Semoga jika memang ajakan itu bukan sekedar wacana, keadaan akan jauuh lebih baik, aamiin.. :)




Comments

Post a Comment

what do you think?

Popular posts from this blog

The Journeys in 2017

Opini Tentang Depresi

Kisah Ranting dan Ketidaksempurnaan