Berdiskusi tentang N


Masing mengenai tema yang sama. 

Jumat minggu lalu, saya berkesempatan bertemu owner dan kontraktor di rapat Klarifikasi Teknis bersama dua orang teman kantor: Civil/Structure Department Manager dan QS Engineer untuk memastikan bahwa semua pihak paham tentang rangkaian teknis pekerjaan perbaikan silo ke depan. Pertemuan diadakan di kawasan perkantoran Sudirman. Meskipun diawali dengan pagi yang melelahkan untuk sampai kantor karena ada truk terguling di tengah jalan TB Simatupang yang super duper padat ketika ada sedikit hambatan, namun Alhamdulillah akhirnya berhasil juga bertemu owner untuk pertama kalinya di meeting ini. Jam setengah 10 sampai di lokasi kemudian diskusi sebentar dengan owner. Jam masih menunjukkan pukul 10.40 sedangkan pertemuan selanjutnya (dengan kontraktor beserta owner) baru dimulai pukul 02.30. Kalo bahasa di kantor sendiri: "ini sih namanya General seharian" haha. Dept manager ku memutuskan untuk kita menunggu saja di kantin gedung yang berada di underground level. 

Kedua teman kantorku itu sudah menikah, jadi ya begini deh, mau gak mau mendengarkan obrolan mereka. Dept manager ku menjelaskan tentang proses bayi tabung yang beberapa bulan lalu dilakukan. Perjuangannya sungguh-sungguh berat lho. Jadi, untuk proses ovum-pick up (pengambilan ovum), Dept Manager ku itu harus minum banyak sekali air dan tidak boleh buang air kecil sebelum ovum berhasil di-pick up. Sedangkan menunggu dokternya saja sudah lama banget. Kebayang kan rasanya? Itu dilakukan demi memiliki seorang anak. Ada pengalaman cerita lain yang menyebutkan bahwa wanita yang sedang mengikuti program bayi tabung, sebenarnya harus benar-benar bedrest, bener-bener gak boleh sering bangkit dari tempat tidur. Bedrest memungkinkan keberhasilan bayi tabung lebih tinggi lagi. Doakan ya readers, semoga Dept Manager ku dipercayakan Allah untuk memiliki anak di usaha bayi tabung keduanya atau dengan cara natural, aamiin :) Jadi jika dipercayakan Allah untuk memiliki anak, berasa banget bersyukur nya kan.. Ehiya lupa, belum nemu bapaknya.. Lewati satu proses dulu lah ya Inshaa Allah haha. 

Cerita kedua datang dari QS Engineer. Sebagai wanita karir, ia harus membagi waktu antara kantor dan rumah (suami dan anak-anaknya). Namun, waktunya di senin-jumat habis untuk di kantor, bahkan harus sering pulang larut malam. Oleh karena itu, kedua anaknya dititipkan ke kedua orang tuanya dan ia juga menyewa jasa baby sitter agar orang tua nya hanya tinggal memberikan perintah saja. Jujur, saya tidak setuju dengan pola seperti itu. Bagaimanapun hebatnya karir seorang wanita, jika kepribadian anak-anaknya bukan dari hasil pembentukan ibunya (update generasi), maka sesungguhnya mereka bermental baby sitter nya. Kasihan kan. Kecuali, mungkin dalam keadaan terjepit, mengharuskan ibu bekerja. Entah mungkin sedang punya cicilan atau hal mendadak lainnya. Tapi sesunguhnya harus dipikirkan matang-matang soal ini. Kesempatan untuk melihat proses anak-anak berkembang itu kan tidak akan datang kedua kali, meskipun kita memiliki anak sebanyak apapun. Selain itu, orang tua kita kan sudah repot mengurus kita sampai dewasa, mengapa harus kita persulit lagi mereka untuk memikirkan tumbuh-kembang anak-anak kita. Dan saya jadi teringat dengan ungkapan "nikmati setiap peran yang kita miliki, nikmati saja prosesnya, jangan berlari dari kenyataan."



Ya ya ya, tampaknnya kesempatan berada di luar kantor ini tetap harus dimanfaatkan buat saya untuk menimba ilmu lainnya. Tampaknya ditakdirkan begitu~

Lanjut ke peristiwa lainnya. 

Waktu sedang liburan di rumah mbah putri pada kesempatan lebaran Agustus lalu, tiba-tiba adik saya berkomentar di luar dugaan. Ketika keluarga besar sedang membahas pernikahan (tau sendiri kan, kalo udah umur segini, bawaannya diomongin orang tentang nikah), tiba-tiba Adzie celetuk, 
Adzie : "Teh, lu beneran mau nikah dekat-dekat ini? Tunggu sampe gue lulus dulu dong, Teh." 
Saya : "Yah, ngapain juga nungguin lu dulu, Ndut? Lama amat."
(Maaf ya, saya dan adik saya memang tak terbiasa untuk berbicara lembut kalo ngobrol bareng. Berbicara gaul aja bawannya. Tapi ya kalo lagi saling jauh, pura-pura kangen deh -__- Yah tetep begitu lah, jaim jaim haha.)

Dalam hati, saya sedih lho dan terheran-heran kenapa dia bisa bilang begitu? Sampai segitunya kah dia takut 'kehilangan'? Saya dan adik saya memang terbiasa jalan berdua entah kemana itu sekedar untuk jalan-jalan saja. Seperti saat di Malang kemarin, dia suka mengajak saya ke tempat-tempat yang menurutnya bagus dan tempat makan yang enak meskipun tetap ya saya yang jadi ATM berjalannya dia -__- Dan apakah ia takut kehilangan momen itu? Sebenarnya kan bisa aja seperti itu lagi jika saya sudah menikah nanti (Inshaa Allah). Yang jelas, saya tidak menyangka dia berkomentar seperti itu. 


Berlanjut ke peristiwa lainnya.. 

Sudah cukup lama saya tidak makan siang di kantin Elnusa. Karena dari hari sebelumnya saya lagi pengen banget makan sate padang, saya memutuskan untuk tidak membawa bekal makan siang keesokan harinya. Yap, lagi-lagi saya mendapati diri harus mendengarkan obrolan ibu-ibu (teman kantor sendiri) mengenai rumah tangga. Yang jelas saya tidak berusaha menghubung-hubungkan berbagai peristiwa, tapi memang aneh akhir-akhir ini di saat saya sesungguhnya tidak ingin menyinggung masalah ini sedikitpun karena belakangan ini saya fokus diri di peningkatan skor bahasa inggris dan aplikasi ke universitas di luar negeri. Dua hal itu sungguh menyita waktu dan pikiran. Yang saya pikirkan ya dua hal itu saja. 

Ternyata meskipun dua orang itu saling mencintai, ketika menikah, ada saja sikap negatif yang baru diketahui setelah menikah yang mengganggu semua kehidupan di rumah itu, baik itu istri maupun anak-anaknya. Butuh kesabaran ekstra dari si istri membimbing suaminya dengan mengingatkannya, tapi dengan cara yang baik. Seperti yang kita tahu, laki-laki itu kan tetap ingin dianggap pelindung dan pemimpin bagi keluarga nya (termasuk isttrinya). Jadi, jangan sekali-kali memberitahunya dengan cara merendahkannya sebagai pemimpin, meskipun kita tahu bahwa kita benar. Dan itulah yang terjadi. Sering sekali suami marah karena hal itu. Wanita kan bawaannya gak mau pusing kalo lagi repot. Jadi, di saat repot, bawaannya emosional. Kata-kata yang keluar jadi asal aja deh. Semoga kita bisa jaga sikap, aamiin. 

Makin ke sini, saya jadi sadar, bahwa menikah itu bukan sekedar bisa bersama dengan orang yang kita cintai, bukan sekedar mencari yang berparas cantik/tampan, tapi karakter lah yang memainkan peranan penting di episode-episode selanjutnya. Jadi inget nasihat dari Oki Setiana Dewi, bahwa menikah itu bukan persoalan 'bersama' tapi juga soal pendewasaan diri. Dan teringat pula ungkapan dari Uni Yenti bahwa menikah itu gak ada sekolahnya karena ya sekolahnya seumur hidup itu. Wew sesuatu banget. 

Semoga sharing saya ini bermanfaat, terutama bagi kita sesama sing-le yang lagi mempersiapkan diri dan mental, yang masih tak lupa menyelipkan doa di setiap sujud kepada Rabb kita. Indah pada waktunya, aamiin 

Comments

  1. beuh, ape bahasannya
    #mencobamenengokblogsendiri

    ReplyDelete
    Replies
    1. mencoba membaca yang terjadi di sekitar by hehe

      Delete

Post a Comment

what do you think?

Popular posts from this blog

Kisah Ranting dan Ketidaksempurnaan

The Journeys in 2017

Back To My 90's Favourite Songs