Adab

Sebuah kata yang memiliki arti yang mendalam bahkan dapat menjadi tolak-ukur seseorang. Gue mungkin bukan orang yang sepenuhnya capable untuk membahas ini secara keseluruhan apalagi melakukannya dengan sempurna, tapi setidaknya gue bisa menilai dari sudut pandang yang baik (I hope). Well, no one is perfect, but I respect those who are always struggling for it. Gue sedang tertarik membahas ini karena kebetulan ada kasus yang sangat menggelitik fondasi berpikir gue terhadap Islam. 



Pertama-tama, apa sih arti kata adab itu sendiri? Jika dikutip dari kamus bahasa indonesia (KBBI), arti dari adab adalah:



Dan beberapa kutipan dari artikel portal Islam:



Udah sering lah ya terdengar opini: "dia gimana sih? pengetahuan agamanya oke, kelihatannya taat, tapi menghadapi masalah begitu aja gak gentle."

Sayangnya, itu kenyataan yang membuat gue juga bertanya-tanya: "trus apa gunanya agama yang selama ini dia yakini?" Pasti akan ada orang yang berkomentar balik: "lo kan ga tau sepenuhnya tentang dia dan kasusnya." Sesungguhnya pertanyaan gue itu bisa dikaitkan dengan fenomena yang terjadi belakangan seputar perpecahan umat dalam satu agama itu sendiri. 

Entah kenapa, saat ini gue merasa, meskipun masyarakat jauh lebih relijius, ketika digoyang isu yang belum tentu benar, mayoritas akan merasa insecure dan ofensif menyerang balik pihak lawan. Padahal sebenarnya, dengan menyerang balik, ya sama aja buruknya dengan pihak lawan. Satu hal yang terbersit seketika adalah, "kenapa sih kalian gak mau sedikit aja mengedukasi diri kalian sendiri untuk bisa tidak responsif berlebihan ketika menanggapi isu atau masalah? Kenapa gak meneliti dulu sebelum mempercayai? Kenapa sensitif banget sih? Ego apa sih yang kalian junjung tinggi?" 

Poin pertama: tidak kritis, ofensif

Di kasus yang lain, ada seorang wanita yang katanya lepas-pakai hijab terus pada akhirnya dihakimi massal di dunia maya. Kenapa sih gak mencoba mendekati dengan ucapan yang baik sambil mengajak ke kebenaran? Bukannya malah menyudutkan dan akhirnya si mba itu menjadi insecure dari kubu agamanya sendiri. 

Poin kedua: vast social judgement

Ada satu kepribadian dari Maher Zain yang gue sangat suka, yaitu dia paling sebel kalo banyak orang yang berteriak mengagung-agungkan namanya ketika dia pentas. Satu point: mengagung-agungkan sosok idola. Sama seperti ketika kita mengidolakan ustadz A atau seorang hafidz misalnya. Menurut gue, sah-sah aja kok mengidolakan orang baik yang jadi panutan. Tapi jeleknya, ketika sang idola melakukan kesalahan, semua imej nya runtuh, seakan dia itu tadinya dianggap sebagai malaikat yang tak luput dari dosa kemudian menjadi setan yang terkutuk. Well, semua orang itu gak sempurna. Ustadz juga manusia. Yang bisa kita ambil adalah nasihatnya yang sejalan dengan Al-Quran dan hadist. Hal ini bersambung ke point lain yaitu: "apa yang ditampilkan itu penting" 

Nah ini penyakit. Banyak yang terlihat berlomba-lomba dalam pakaian syar'i tapi perilakunya gak syar'i: nyerobot antrian, maunya enak sendiri, parkir sembarangan, belanja berlebihan, masih ngegosip ngobrolin orang lain. 

Point ketiga: penampilan adalah segalanya

Hal-hal tentang adab, masih jauh dari kata merepresentasikan Islam. Sebenarnya gue juga jadi mempertanyakan fondasi agama yang sudah gue bangun sejauh ini. Meskipun udah lama liqo, tapi pada ujungnya, gue yakin bahwa harus diri gue sendiri lah yang mengedukasi diri untuk lebih memahami Islam. Sesugguhnya, ada kekhawatiran tersendiri tentang adanya paham yang terselip dalam pengajaran inner circle itu. Paham yang menurut gue menjadikan diri gak fleksible dengan kondisi yang ada. Fleksibel di sini bukan berarti tanpa saringan. Tentu saja, gak semua hal harus fleksibel, tapi berimbang antara flexibility dan principal. 

Jujur, setelah menempuh master research di Jepang, gue jadi lebih berpikir kritis dan memaknai segala hal menurut harfiah nya, faedah, prinsipal, filosofis. Termasuk ke dalam kehidupan dan agama. Seorang profesor di Jepang aja masuk Islam karena filosofi berpikirnya tentang alam. Jadi gue sangat yakin bahwa Islam itu ada bukan sekedar diagung-agungkan oleh kelompok-kelompok tertentu, tapi benar-benar rahmatallil'alamin yang secara filosofi adalah sebagai penuntun kehidupan. Karena.. seorang atheis saja tiba-tiba takut akan Tuhan ketika dia merasa dekat akan kematian. Jadi, sesungguhnya Islam adalah satu-satunya agama yang mampu menjelaskan filosofi/hakikat dunia ini. 

Ketika kita bisa memahami nilai Islam dalam tatanan harfiah, seharusnya adab pun juga mengikuti menjadi baik. Tapi, pada kenyataannya manusia sering lupa (insan = lupa), yang harus terus di-update keimanannya. 'Memahami' saja dulu menurut saya jauh lebih baik ketimbang tidak tahu sama sekali. Perkara lupa, mudah-mudahan selalu diingatkan kembali ke jalan yang benar. 

Berkaitan dengan adab, semoga tulisan ini mampu menjadi catatan untuk diri sendiri supaya lebih beradab meskipun ketika menghadapi orang yang menyebalkan. 

Comments

Popular posts from this blog

Kisah Ranting dan Ketidaksempurnaan

The Journeys in 2017

Back To My 90's Favourite Songs